Minggu, 21 Maret 2010


Banyuasin Uji Coba Padi Organik

Di Desa Teluk Betung

TELUK BETUNG - Ratusan ribu hektare lahan sawah yang saat ini diusahakan oleh petani di Kabupaten Banyuasin masih sangat rentan terserang berbagai macam hama. Hal ini dikarenakan beberapa faktor. Salah satunya kekurangan pupuk.

Guna meminimalisir kerugian akibat hama tersebut, kini petani Banyuasin mulai dikenalkan dengan padi organik, yang saat ini penanaman perdananya dilakukan di lahan seluas 45 hektare (Ha) di Desa Teluk Betung Kecamatan Pulau Rimau, Sabtu (19/3).

Penanamam padi jenis SRI Organik ini merupakan sumbangsih dari pihak PT Medco E&P Indonesia. Selain itu, sebagai bentuk nyata untuk ikut memajukan bumi sedulang setudung, PT Medco E&P mengikutsertakan 47 petani di Desa Teluk Betung untuk mengembangkan padi jenis organik ini.

Perwakilan PT Medco E&P Indonesia, Irfan Sidiq menjelaskan, padi organic merupakan varietas padi yang tahan akan serangan hama. Sebab dalam perkembangannya selama masa penanaman sangat kuat. Dan untuk pupuk hanya menggunakan pupuk buatan, yang berasal dari kotoran hewan, sehingga petani tidak perlu khawatir dengan kekurangan pupuk, seperti yang terjadi selama ini pada jenis padi biasa.

“Padi organik ini bukan hal yang baru lagi sebab sudah banyak kabupaten yang petaninya mulai menanam padi jenis ini, selain tahan dengan serangan hama, pun hanya menggunakan pupuk organik pula. Tetapi petani bisa membuatnya dengan menggunakan kotoran hewan,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk proses penanaman padi organik ini pada lahan yang telah disediakan dengan berjarak 30 x 30 cm yang merupakan ditanam pada areal lahan yang dangkal. Benih padi unggul yang satu ini ditanam dengan akar horizontal, sementara bulir padi jangan sampai lepas atau akarnya jangan putus.
         
‘’Kedalaman penanaman benih padi jenis SRI Organik ini berkisar antara 0,5 cm hingga 1 cm. Diharapkan dengan potensi lahan sawah yang sangat berlimpah di Banyuasin, akan banyak petani yang lain untuk beralih menanam padi jenis ini. Memang untuk saat ini, kami baru menggarap di Desa Teluk Betung, dan tidak menutup kemungkinan pula di desa atau daerah lain,” harapnya.

Kepala Desa Teluk Betung, Khairul Haris mengatakan, untuk lahan uji coba SRI Organik ini adalah lahan warga yang tergabung dalam kelompok sebanyak 47 petani. Diharapkan beberapa kendala dalam pelaksanaan di lapangan, sudah bisa terkover sebab petani sendiri telah diberikan pelatihan tata cara penanaman hingga perlakukan selama masa tanam hingga panen menjelang.

“Untuk saat ini Kecamatan Pulau Rimau ini hanya mampu menempati peringkat ke-5 sebagai lumbung pangannya Kabupaten Banyuasin. Nanti jika ini berhasil kami berharap dan angat optimis bisa menjadi yang pertama. Namun kendala kami saat ini adalah ketersediaan pupuk organik itu, setidaknya pemerintah memberikan kami bantuan untuk penyediaan kotoran atau alat cooper,” ucapnya.

Dalam kegiatan penanaman perdana SRI Organik tersebut, Bupati Banyuasin Ir H Amiruddin Inoed mengatakan, kepedulian PT Medco E&P Indonesia terhadap pertanian cukup diacungi jempol. Pasalnya dengan ikut peduli, artinya perusahaan ini telah ikut serta melestarikan lingkungan, dengan kebutuhan makan rakyat Indonesia yang sangat tinggi tentunya kelestarian sawah harus tetap dijaga. Dia berharap agar petani tidak mengalihfungsikan lahannya menjadi areal pekebunan.

‘’Coba bayangkan 250 juta jiwa penduduk Indonesia ini membutuhkan 47 juta ton beras pertahun, jika lahan sawah telah dialihfungsikan tentu kita akan kesulitan untuk makan. Apalagi saat ini pulau Jawa telah kekurangan lahan sawah, dan saat ini untuk menutupi kebutuhan itu adalah tugas kita. Sebuah produk yang ke depan akan terus kita kembangkan bagi kesejahteraan petani. Sebab padi SRI Organik ini adalah jenis padi yang tahan akan penyakit, dan tidak memerlukan pupuk seperti urea, KCL atau yang lain, hanya menggunakan kotoran hewan saja,” tandas Amiruddin. (yan)

Gedung Dewan Butuh Perbaikan



Kondisi Bangunan Retak dan Bocor

PANGKALAN BALAI - Saat ini kondisi fisik bangunan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banyuasin butuh perbaikan. Pasalnya di sejumlah titik mulai mengalami kerusakan. Bahkan pada saat hujan turun gedung dewan ini tak jarang kebocoran dan digenangi air akibat tetesan hujan sehingga menyebabkan plafon mengalami pelapukan.

Tak hanya itu, pantauan di beberapa sudut gedung wakil rakyat ini setidaknya ada puluhan titik yang tampak mengalami keretakan. Misalnya di pintu masuk samping toilet lantai dasar, di depan ruang empat komisi, lantai atas dan dinding yang ditempati para kepala bagian. Sedangkan kebocoran plafon terdapat di depan ruang wakil ketua I, wakil ketua II, wakil ketua II, bagian lobi tengah gedung DPRD dan bahkan plafon samping yang berhadapan dengan gedung Bupati Banyuasin sudah banyak yang ambruk.

Tentunya kondisi ini mendapatkan tanggapan dari beberapa pengunjung. Menurut Dardanela, jika kondisi yang saat ini tidak dibenahi bukan tidak mungkin akan membahayakan bukan hanya staf dan anggota dewan yang bekerja di gedung tersebut, tetapi juga masyarakat yang berurusan di gedung dewan ini. Dia berharap agar segera dilakukan perbaikan.

“Masak dana yang dihabiskan untuk membuat gedung ini sangat banyak, tapi kenapa sekarang banyak yang rusak, retak bahkan di sana-sini bocor. Lihat saja plafon sudah banyak yang ambruk karena lapuk terus disiram air hujan yang bocor dari atap,” kata warga Tanjung Lago ini.

Sekretaris Dewan, Drs H Harobin Mustofa, MSi melalui Kabag Umum Edyar Rosyad SPd MSi membenarkan kondisi gedung wakil rakyat tersebut. Menurut Rosyad, kerusakan sejumlah bagian bangunan sudah berlangsung lama, terutama bagian bagunan yang retak dan plafon yang bocor.

“Retak dan bocor ini sudah berlangsung satu tahun terakhir, namun upaya perbaikan hanya sekedarnya saja mengingat dana pemeliharaan yang tidak mencukupi. Hanya ada dana Rp 50 juta bagi pemeliharan gedung dewan ini. Bayangkan saja ada 6 gedung yang harus dipelihara. Gedung rapat paripurna, dan tiga rumah pimpinan,” jelasnya.

Dengan kerusakan gedung seperti ini, anggaran pemeliharaan gedung harus ditingkatkan. Idealnya untuk satu gedung Rp 50 juta karena kerusakan bagian bagunan sudah cukup parah.

“Untuk mengatasi kebocaran atap gedung dewan saja, minimal di butuhkan dana sekitar 60 juta, itupun hanya sebagian kontraktor yang mau. Sedangkan yang lain menilai masih kecil dengan melihat kerusakan yang ada,” imbuhnya. (yan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Iib Zulhan

Buat Lencana Anda